5 Bahaya yang Terjadi Jika Feminisme Tak Ada di Indonesia
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Stories 5 Bahaya yang Terjadi Jika Feminisme Tak Ada di Indonesia

5 Bahaya yang Terjadi Jika Feminisme Tak Ada di Indonesia

Jagad media sosial beberapa hari ini diramaikan dengan akun Instagram @indonesiatanpafeminis. Ramai #UninstallFeminism dan #IndonesiaTanpaFeminis menjadi perbincangan di media sosial.

Kuat diduga kampanye ini muncul seiring menguatnya desakan untuk meloloskan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (selanjutnya PKS) di sisa masa tugas DPR saat ini. Tak jarang RUU PKS menjadi bahan perdebatan antara kelompok feminis dan aktivis pendukung perlindungan perempuan dengan sebagian kelompok Islam.

Sembari menunggu RUU PKS diproses oleh orang-orang terhormat kita di Parlemen, mari kita berandai-andai jika feminisme benar-benar dihapus dari kehidupan bermasyarakat Indonesia. Sebagian di antaranya mungkin terdengar berlebihan. Namun bukan tak mungkin hal tersebut dapat terjadi.

Tak Ada Akses Pendidikan Bagi Perempuan

Seandainya feminisme dihapus di Indonesia, cerita ‘dilema Maudy Ayunda’ mau kuliah di Stanford atau Harvard nggak akan terjadi. Feminisme yang menekankan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan memungkinkan perempuan mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

Karena pemikiran feminisme sendiri lahir dari kesadaran perempuan bahwa mereka selalu berada di posisi yang tereksploitasi, direndahkan, dan menjadi lain atau liyan, sebagai manusia kelas dua. Termasuk direndahkan martabatnya karena dianggap nggak layak bersekolah dan memperoleh pendidikan.

Ingat, perempuan juga manusia. Ia bukan pohon yang berdiri tanpa akal. Akal budi dan pengetahuan perempuan harus diasah, salah satunya dengan pendidikan. Paham?

Perempuan Dilarang Memegang Jabatan Politik

Tahun 2018 yang lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani terpilih sebagai Finance Minister of the Year East Asia Pacific 2018. Bayangkan Menter Keuangan terbaik dunia berasal dari Indonesia, lho! Ini sebuah prestasi yang tidak bisa dipandang remeh.

Seandainya feminisme tidak ada di Indonesia, cerita Sri Mulyani dan Susi Pudjiastuti yang menyabet banyak penghargaan internasional tidak akan terjadi. Feminisme memungkinkan perempuan menyuarakan suara, mengerahkan kemampuan untuk kemajuan suatu negara.

Nggak Ada Aktris Perempuan Kenamaan Indonesia

Sebut semua aktris, model, atau bintang film perempuan idolamu. Seandainya feminisme benar-benar dihapus, kamu nggak mungkin jingkrak-jingkrak melihat JKT48. Jika feminisme dihilangkan dari peradaban Indonesia, nggak ada, tuh, ceritanya Dian Sastrowardoyo jadi Cinta di film AADC. Nggak ada juga cerita Dilan dan Milea diangkat jadi film. Karena sejatinya perempuan hanya untuk urusan dapur, sumur, dan kasur. Nggak mungkin juga ada presenter sekeren Najwa Shihab di televisi.

Fashion Blogger atau Beauty Enthusiast Bakalan Cowok Semua

Buat kamu yang #UpdateTerus soal peralatan dan style make up pastinya tahu kan channel Youtube Jovi Adhiguna sama Andreas Lukita? Dua cowok ini ngebuktiin kalo dunia make up dan fashion nggak ada perbedaan gender! Terus gimana kalau masyarakat nggak kenal feminisme?

Ya Jovi Adhiguna dan Andreas Lukita mungkin ngerjain sesuatu yang mungkin bukan mereka suka. Semacam jadi pemain basket atau jadi tukang gorengan mungkin. Padahal mereka punya kompetensi dan minat dalam dunia fashion & beauty.

Nggak ada akun @indonesiatanpafeminis

Seandainya feminisme tidak ada di Indonesia, perempuan tidak punya hak memiliki akun sosial media. Mereka juga tidak bisa membuat kampanye di internet. Maka dari itu #IndonesiaTanpaFeminis juga tidak akan ada. Mereka lupa kalau feminisme tidak ada di Indonesia, perempuan nggak boleh main internet! Perempuan nggak main internet, nggak ada, tuh, @indonesiatanpafeminis.

Feminisme memungkinkan perempuan punya akses terhadap internet. Tidaknya akses internet, berarti tidak ada hak untuk perempuan mengakses informasi. Kalau tidak ada akses internet untuk perempuan, nggak mungkin perempuan bisa masak Telur Mata Sapi Sambal Matah sambil nonton YouTube.

Melihat betapa pentingnya pemikiran feminisme untuk Indonesia, yang jadi pertanyaan apakah Indonesia membutuhkan feminisme? Jawabannya, ya dan tidak. Pertama-tama, harus dilihat bahwa gagasan feminisme muncul karena adanya kenyataan perempuan dianggap di bawah laki-laki.

Sejarah membuktikan bahwa perempuan pernah menjadi ‘makhluk kelas dua’, maka pemikiran feminisme jelas dibutuhkan. Feminisme tidak menginginkan perempuan diunggulkan. Feminisme menginginkan keseteraan dan hak yang sama dengan kaum Adam, mostly dalam hal menyuarakan pendapat dan didengar.

Jika dalam agama Islam kedudukan wanita sudah jelas, namun bagaimana fenomena lainnya yang muncul saat para wanita bercadar dipandang sebelah mata di sini? Bukankah mereka juga punya hak atas pilihannya? Bukankah mereka perlu dihargai dan bebas melangkah tanpa perlu di cap ekstrimis? Perlu dipahami, feminisme sebenarnya bukan sedangkal para wanita bebas berpakaian seksi tanpa di judge, atau para lesbian yang terang-terangan mempertontonkan kemesraan mereka. Kita tinggal di Indonesia, negara yang kental adat ketimuran dan memahami konteks tata krama dengan baik. Para pejuang feminisme pun pasti mengerti, jika mereka ingin mengumbar aurat di komplek monas, silahkan telan bulat-bulat pelecehan yang akan diterima dari abang-abang jualan sekitar.

Feminisme tidak lagi dibutuhkan jika setiap manusia punya kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan adalah satu saudara yang patut saling menghargai suara satu sama lain. Bukankah setiap keyakinan mengajarkan kita untuk menghormati sesama, tanpa memandang gender, agama, ras suku dan budaya? Kampanye seperti inilah yang seharusnya digalakkan. Jika kesadaran tersebut sudah mengakar, maka perdebatan feminisme dan anti-feminisme sudah tak lagi relevan. (Agung Mustika)

 

 

 

 

 

 

Related Post