Kisah Fahmi "Kornet" dari Di-bully Sampai Jadi Passion
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Inside Kurio Kisah Fahmi “Kornet” dari Di-bully Sampai Jadi Passion

Kisah Fahmi “Kornet” dari Di-bully Sampai Jadi Passion

Sadar jika ilmu eksakta bukan menjadi minatnya, kecintaannya pada dunia game membuat Fahmi ‘Kornet’ Maulana memutuskan terjun ke dunia e-sports. Bukan menjadi pro player, melainkan caster.

Yup, seperti pertandingan olahraga fisik yang membutuhkan komentator, olahraga elektronik pun tidak lepas dari peran caster. Selain sebagai pengamat permainan atau pandit, caster juga berperan dalam meramaikan suasana saat match.

Meskipun jatuh cinta dengan dunia game, menjadi pemain pro bukanlah jalan hidup yang dipilih Fahmi ‘Kornet’. Baginya, menjadi pro player terlampau sulit. Buat cowok yang pernah menempuh kuliah Fisika di Universitas Parahyangan Bandung ini, menjadi pro player juga butuh keseriusan dan disiplin yang tinggi.

“Gue jago di lingkungan tongkrongan doang. Kalo sama pro player habis gue disikat,” ujar Fahmi saat ditemui Kurio di Istora Senayan saat Grand Final Piala Presiden Esports 2019, Minggu (31/3). Layaknya pecinta game MOBA pada umumnya, Fahmi merasakan betul serunya bermain DOTA 2 bersama teman-teman kuliahnya.

“Dulu gue sering dikatain sama temen-temen kos, ‘dasar lu kaleng kornet’, sejak saat itu username gue di DOTA dan Mobile Legend pakai Kornet,” lanjut Fahmi.

Minatnya untuk menjadi caster mulai ia temukan saat menjadi penyiar radio kampus Unpar. Akhirnya ia nekat memilih berhenti kuliah dan menjadi penyiar OZ Radio Bandung, dan dan menjadi program director di XChannel Serang. Sampai pada momen ketika Fahmi sekadar iseng bertanya pendaftaran menjadi caster saat playoff MPL Season 1.

“Saat itu gue ke backstage Taman Anggrek, iseng mau ketemu panitianya terus panitianya turun. Gue tanya gimana sih caranya jadi caster. Dia bilang email, nomor hp, sama kasi contoh cast pertandingan MPL Season 1. Lusanya gue langsung kirim email,” kenang Kornet.

Dua bulan kemudian, dia akhirnya mendapat kesempatan untuk menjadi caster saat Codashop Weekdays Tournament. Alhasil, ia dipercaya menjadi caster Weekdays Tournament sampai final. Meski begitu ia menceritakan awalnya ia selalu dihina oleh netizen.

“Intinya kalau liat gue isinya hinaan semua, minta ganti caster lain, ngecast kayak penyiar radio,” katanya. Namun perlahan tapi pasti, Kornet berhasil membuktikan kepada warganet jika ia layak menjadi caster.

Fahmi sendiri mengakui bahwa sebagai caster ia pernah merasakan kesulitan untuk menghafalkan item-item dalam Mobile Legends. Maka dari itu, Fahmi kerap bermain bersama pro player untuk mengetahui strategi permainan dan item-item yang diperlukan.

“Karena gue orangnya males baca jadi learning by doing aja buat tahu strateginya di ML itu ada apa aja, itemnya apa aja, masing-masing role play mesti ngapain,” jelas Kornet.

Buat kamu yang pengen jadi caster e-sports Fahmi ‘Kornet’ ngasih pesan yang ngena banget, nih!

“Jangan pernah berhenti belajar pokoknya! Terus penting juga paham sama gamenya. Nggak perlu jago, tapi paham strategi gamenya mesti gimana,” ujar Fahmi.

Lebih jauh lagi menurut Fahmi ‘Kornet’ jangan melulu melakukan sesuatu karena uang. Lebih penting lagi, melakukan sesuatu karena passion.

“Karena waktu awal-awal gue nge-caster, cuma dikasih nasi kotak. Terus cuma dibayar 200 ribu juga pernah. Jadi harus bertekun dengan apa yang lo suka. Perlahan tapi pasti uang akan datang dengan sendirinya,” pungkas Kornet.

 

 

 

 

Related Post