E-sports Indonesia: Dari Layar Warnet Hingga Kancah Global
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Inside Kurio, Stories E-sports Indonesia: Dari Layar Warnet Hingga Kancah Global

E-sports Indonesia: Dari Layar Warnet Hingga Kancah Global

“Main game kok dibilang olahraga?”

“Game kok bisa masuk tv?”

“Ngapain nontonin orang main game?”

Celotehan tersebut sering terlontar dari orangtua atau mereka yang lahir dan tumbuh di tahun 70-80an. Tidak sedikit orang pula yang heran bahwa bermain game bisa mendatangkan rupiah yang menjanjikan. Dibanding berternak lele, banyak milenial yang lebih memilih menjadi atlit eSports untuk mencari nafkah.

Yap, game yang awalnya dimainkan untuk mengisi waktu senggang atau hiburan belaka kini beralih fungsi menjadi industri. Tak hanya sebagai hiburan, tapi juga menjadi pilihan karir.

Gairah eSports yang merangkak dan mulai menggeliat di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kehadiran internet. Kelahiran internet pada 1983 menjadi momen yang mengakrabkan Indonesia dan dunia dengan game online.

Dengan teknologi jaringan yang memungkinkan sebuah game diakses oleh banyak orang dari berbagai negara dalam waktu yang bersamaan, game sudah melebarkan sayapnya ke penjuru dunia termasuk Indonesia.

Muncul Netrek pada 1988 sebagai game internet pertama yang menggunakan metaserver, menjadi pijakan selanjutnya dari kemunculan kompetisi-kompetisi game di dunia, termasuk di Indonesia. Pada perkembangannya, game yang dipertandingkan dalam skala besar dan melibatkan banyak negara akan masuk dalam kategori esports.

Keberadaan komputer yang dilengkapi dengan jaringan internet membuat game online di Indonesia mulai marak. Mulai saat ini, internet berlanjut ke arah komersial dengan banyak munculnya warung internet (warnet). Alhasil, semakin banyak pula orang yang bisa bermain game online. Hayo, siapa, nih, yang kalau dapat uang jajan malah dipakai buat main game di warnet?

Sejarah dan perkembangan esports Indonesia juga tidak lepas dari sosok Eddy Lim, Ketua Indonesia eSports Association (IeSPA). Eddy menjadi saksi sejarah perkembangan eSports di Indonesia. Ia yang mendirikan Indonesia Gamers, yang saat ini dikenal dengan Liga Game.

“Liga Game dibentuk ketika internet mulai marak, sehingga saya berpikir untuk membuat forum. Awalnya hanya teman-teman, kemudian semakin banyak. Karena dulu belum ada Facebook (atau media sosial lain), di dunia maya kami kumpul di forum. Makanya, dibuat situsnya pada 2001, sekaligus meresmikan komunitas,” kata Eddy dikutip dari Kumparan.

Dengan segala keterbatasan yang ada Eddy mempromosikan kompetisi door to door ke warnet-warnet di Indonesia.

“Tahun 1999, kami sudah melangsungkan sebuah kejuaraan karena sudah banyak warnet. Tapi, tidak semudah sekarang. Kalau dulu, kami harus mendatangi warnet satu per satu. Lalu kami jelaskan bahwa akan ada kejuaraan dengan aturannya seperti apa, lokasinya di mana. Saat itu, game-nya Quake II dan Starcraft,” lanjutnya.

Dari sini, perkembangan eSports di Indonesia berjalan naik-turun lantaran banyaknya game online baru bermunculan. Puncaknya, ketika game semacam Ragnarok ramai pada 2003 hingga 2006.

Namun, karena telah memiliki pondasi cukup kuat, eSports tetap menemukan jalan untuk terus berkembang. Bahkan, pada April 2018 lalu, kejuaraan Indonesia Games Championship yang mengundang tim-tim mancanegara, diikuti lebih dari 9.000 peserta dan dihadiri lebih dari 13 ribu pengunjung. Total hadiahnya pun mencapai Rp 500 juta.

Tak berhenti sampai di situ. Indonesia yang notabene kerap tertinggal dalam menerima perkembangan teknologi, termasuk game online, justru berkesempatan menjadi tempat lahirnya sebuah sejarah baru bagi eSports dunia. Soalnya, eSports resmi menjadi cabang olahraga (cabor) ekshibisi di Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta dan Palembang.

Setelah sukses unjuk gigi di pentas Asian Games 2018, e-Sports semakin menuju industri olahraga yang menjanjikan di Tanah Air. Rangkaian e-Sports berskala menengah – besar mulai banyak diadakan di Indonesia. Yang bisa terlihat adalah banyaknya perusahaan-perusahaan besar, tak hanya yang bergerak di sektor komputer dan IT berlomba-lomba membuat kompetisi esports.

Tahun 2018 bisa dibilang menjadi tahun yang sibuk bagi para penyelenggara kompetisi e-Sports di Indonesia. Tercatat ada kompetisi Indonesian Esports Games (IEG) 2018, Kratingdaeng Indonesia Esports Championship, PUBG Mobile Indonesia National Championship dan ajang eksibisi e-Sports Asian Games 2018.

Ada pula South East Asian Cyber Arena (SEACA) sukses digelar selama 5 hari di Mal Taman Anggrek. Kesuksean yang bersifat turnamen ternyata menaruh minat banyak pihak untuk menyelenggarakan kompetisi yang memiliki durasi panjang.

Satu di antara yang tidak lepas dari perhatian publik adalah liga IESPL Tokopedia Battle of Friday. Event bergengsi ini sudah berlangsung sejak 10 Agustus 2018. Kompetisi tersebut merupakan kerjasama antara Indonesia ESports Premiere League (IESPL) dengan perusahaan e-commerce Tokopedia hingga 25 Januari 2019 yang lalu.

Gelaran IESPL Tokopedia Battle of Friday (TBoF) menyajikan serangkaian pertarungan menarik antar tim eSports papan atas di Indonesia. Tak heran jika rentang waktu alias periode kompetisi tersebut menjadikan IESPL sebagai satu di antara kompetisi e-Sports terpanjang di Indonesia.

Liga Tokopedia Battle of Friday memperebutkan total hadiah senilai Rp1,9 Miliar. Sesuai namanya, pertandingan TBoF dilakukan setiap hari Jumat. Tiap pertandingan akan digelar secara offline dan online. Highground Cafe yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk menjadi arena digelarnya pertandingan offline.

Sebanyak 12 tim profesional Indonesia saling berjibaku guna menjadi yang terbaik. Divisi title game yang akan dipertandingkan antara lain Dota 2, Mobile Legends, Counter Strike: Global Offensive (CS:GO) dan Point Blank. Layaknya klub-klub kompetisi olahraga pada umumnya, tim-tim profesional Indonesia mulai kebanjiran fans dan popularitas.

Nama-nama seperti Saint Indo, Alter Ego, Aerowolf, Evos mulai banyak digemari. Layaknya tim olahraga, gosip dan kabar tak sedap juga rentan menghantui tim-tim eSports tersebut.

Antusiasme masyarakat Indonesia terhadap esports juga menggerakkan Pemerintah Indonesia. Atas inisiatif Presiden Joko Widodo yang bekerjasama dengan IESPL, Bekraf, Kemenkominfo, dan Kemenpora, diadakanlah Piala Presiden Esports Indonesia 2019. Turnamen yang digelar sejak Januari 2019 telah menyisakan partai final yang akan digelar pada 30-31 Januari 2019.

Usut punya usut, nih, langkah ini dilakukan Pemerintah Indonesia juga untuk menyaring talenta eSports di Indonesia. Nantinya tim-tim yang berhasil menyabet juara mendapat kesempatan untuk menjadi skuad Garuda di cabang esports di Sea Games 2019.

Siapa sangka game online yang dahulu kerap dianggap biang kemalasan oleh banyak orangtua kini bisa jadi kesempatan untuk mengharumkan nama bangsa. Dari layar warnet hingga menjadi tontonan internasional, eSports Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata.

 

 

Related Post