5 Bahaya yang Terjadi Kalau Kamu Golput
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Inside Kurio 5 Bahaya yang Terjadi Kalau Kamu Golput

5 Bahaya yang Terjadi Kalau Kamu Golput

Pada 17 April mendatang, bangsa kita akan melaksanakan Pemilu Serentak dan Pilpres. Pemilu kali ini terasa spesial. Pasalnya, kita tidak hanya memilih presiden dan wakil presiden. Kita juga menggunakan hak pilih untuk menyoblos DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten.

Di tengah perdebatan paslon mana yang lebih baik, sayangnya ada sebagian orang yang menyuarakan bahkan terang-terangan mengajak Golput. Istilah ‘Golput’ atau Golongan Putih berarti secara sadar tidak ikut serta dalam pemilihan, tidak menyoblos atau malah menyoblos bagian putih pada kertas pemilih.

Yang sulit ditampikkan, hasil pemilihan pada 17 April mendatang akan sangat krusial menentukan nasib bangsa dan negara. Meskipun dalam Undang-Undang tidak ada sanksi atau hukuman jika melakukan golput, ada beberapa pertimbangan serius kenapa kamu jangan sampai tidak memilih alias golput. Berikut 5 hal yang terjadi kalau kamu golput saat Pemilu nanti.

Memperbesar potensi manipulasi suara

Saat kamu memilih untuk tidak ambil bagian dalam Pemilu sebagai pemilih, kamu akan menyisakan satu suara yang tidak terpakai. Celakanya, surat suara yang kamu tinggalkan bisa dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk memanipulasi jumlah suara. Itu baru satu suara, bagaimana jika jumlahnya sampai puluhan? Akan semakin banyak manipulasi suara yang terjadi.

Pendapatan negara terbuang sia-sia

Penyelenggaraan Pilpres dan Pemilu 2019 dibiayai oleh negara dan menghabiskan dana sebesar 24,8 triliun. Karenanya, jika kamu memilih untuk golput atau tidak menggunakan hak, maka anggaran yang dikucurkan terbuang sia-sia. Besarnya anggaran juga dikeluarkan demi kelancaran pesta demokrasi lima tahun sekali ini. Sama halnya jika kamu membuat pesta tetapi hanya sedikit yang datang. Sedih bukan?

Yang terbaik bisa tidak terpilih, yang terburuk bisa terpilih

Kalau kamu adalah orang yang berpikir bahwa kandidat yang tersedia sama-sama tidak sesuai harapan, kamu tidak sendirian. Banyak orang yang kecewa dengan kandidat yang ada. Tapi suka tidak suka seseorang harus terpilih.

Kandidat legislatif atau capres dan cawapres bukan figur yang media sosialnya di-private. Dengan ponsel pintarmu, informasi tentang janji-janji, momen unik, sampai blunder-blundernya ada di dunia maya. Kalau kamu golput, yang baik bisa tidak terpilih, yang terburuk malah bisa terpilih.

Kamu boleh ragu dengan kandidat politisi, tapi kamu tidak boleh ragu dengan suara hati nurani. Jika tidak ada yang terbaik, setidaknya kamu harus mencegah yang terburuk berkuasa.

Kehilangan peran membangun masa depan Indonesia

Saat kamu menggunakan hak pilih, kamu juga turut membangun masa depan bangsa Indonesia. Kedengarannya klise. Tapi nasib bangsa kita memang ditentukan lewat siapa yang memimpin negara ini. Kalau tidak percaya, coba cari tahu tentang yang dilakukan Presiden Soeharto saat Orde Baru untuk negara ini. Pemimpin bisa melakukan hal apapun untuk bangsa ini. Dengan menyoblos, kamu menjadi bagian dalam pembangunan bangsa dan negara.

Kamu tidak akan terwakili

Orang yang memilih saja bisa tidak terwakili, apalagi jika tidak memilih. Kalau kamu merasa Undang-Undang ITE bisa membuatmu dipenjara karena menyuarakan pendapat, atau pernah merasa internet di Indonesia mahal dan butut banget, atau bahkan kamu merasa pendidikan Indonesia terasa membosankan, aspirasimu bisa terwakili oleh orang-orang baru yang bisa mengambil keputusan dan kompeten di bidangnya. Tidak ikut memilih sama saja dengan memberi ‘kursi’ untuk orang yang itu-itu lagi dalam parlemen. Artinya bangsa ini juga tidak akan maju.

Sebagai orang yang hidup berbangsa dan bernegara kita tidak hidup sebatang kara. Pemilu tidak menuntutmu untuk rapat berjam-jam membahas Undang-Undang yang rumit. Pemilu juga tidak menuntutmu untuk langsung mengatasi masalah-masalah konkret semacam kemiskinan, kemacetan, banjir, dan sebagainya.

Justru dengan memilih kamu menyerahkan tugas-tugas itu kepada orang lain. Tugasmu hanya memilih siapa orang yang  tepat untuk menuntaskan masalah-masalah itu. Kamu hanya perlu menyisihkan waktu 5 menit dari jutaan menit yang kamu habiskan di media sosial. Lima menitmu, menentukan nasib lima tahun bangsa ini. (Agung Mustika)