Sociopreneur Indonesia Raih Penghargaan ASEAN Social Impact Awards
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Inside Kurio Sociopreneur Indonesia Raih Penghargaan ASEAN Social Impact Awards

Sociopreneur Indonesia Raih Penghargaan ASEAN Social Impact Awards

SINGAPURA – Fakultas Seni dan Ilmu Kemasyarakatan Universitas Nasional Singapura (NUS) berkolaborasi dengan Ee Peng Liang Memorial Fund, Asia Philanthropy Circle (APC) dan Ashoka Innovators for the Public menyelenggarakan ASEAN Social Impact Awards, sebuah penghargaan yang didedikasikan bagi sociopreneur yang berhasil menggerakkan dan memberdayakan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.

Pada seremoni penghargaan yang digelar di Singapura, Rabu (21/3), tiga sociopreneur yang berasal dari Indonesia, Filipina, dan Thailand terpilih karena berhasil memberikan dampak positif yang besar secara sosial dan ekonomi di negaranya masing-masing.

Tri Mumpuni selaku Pendiri Insitut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) dan sebagai perwakilan Indonesia didaulat sebagai pemenang utama. Tri Mumpuni terpilih karena keberhasilannya memberikan akses listrik dan pengembangan ekonomi untuk desa-desa terpencil di Indonesia. Ia bekerja sama dengan masyarakat untuk membangun pembangkit listrik tenaga hydro dan melatih penduduk untuk dapat mengoperasikan pembangkit listrik tersebut. Atas usahanya ini, Tri Mumpuni mendapatkan hadiah sebesar 50 ribu Dollar Singapura untuk membantu mengembangkan upayanya memberikan kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat terpencil.

“Keberadaan penghargaan ini membuat saya sadar bahwa untuk memperbaiki kondisi ketimpangan antara si miskin dan si kaya menjadi tidak begitu sulit karena masyarakat filantopi seperti APC Singapure dan APC Indonesia ikut terlibat di dalamnya. Berbagi tidak harus selalu berbentuk materi, namun energi, tenaga dan ketulusan hati, sehingga pegiat pemberdayaan merasa mendapat banyak teman yang ingin sama sama memperbaiki dunia yang penuh ketimpangan ini,” ucap Tri Mumpuni.

“Apalagi dengan kehadiran APC Indonesia yang dikomandoi oleh Victor Hartono didukung oleh Arief TP Rahmat, Belinda dan generasi muda ‘richest’ lainnya telah memberikan semangat baru dalam pengentasan kemiskinan. Saya yakin dukungan mereka secara signifikan akan membuat usaha meningkatkan kemakmuran kaum marjinal yang selama ini saya lakukan akan berdampak lebih besar,” sambung Tri Mumpuni.

Adapun penghargaan kedua diberikan kepada Cherrie Atilano, pendiri AGREA Agricultural Systems International Inc. dari Filipina sebagai runner up. Apresiasi ini diberikan karena usaha Cherrie Atilano dalam meningkatkan akses ke skema keuangan, teknologi dan informasi bagi petani. Ia juga memberikan pelatihan bagi para petani untuk menjaga lingkungan dan memastikan mata pencaharian mereka dapat berkembang dan berkelanjutan.

Sementara, penghargaan sebagai runner up juga diberikan kepada Somsak Boonkam, pendiri Local Alike dari Thailand. Penghargaan diberikan karena usaha Somsak Boonkam dalam meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mengembangkan sektor pariwisata. Ia menggunakan ini sebagai jalan masuk untuk menyelesaikan masalah sosial, menjaga budaya lokal dan menambah penghasilan bagi masyarakat. Baik Cherrie dan Somsak mendapatkan hadiah sebesar 25 ribu Dollar Singapura untuk membantu upaya mereka dalam proyeknya masing-masing.

Penghargaan yang digelar untuk pertama kalinya ini terinspirasi oleh semangat berbagi yang ditunjukkan oleh Dr Ee Peng Liang yang sering disebut sebagai “Bapak Kegiatan Amal” (Father of Charity) Singapura. Tujuan jangka panjang dari penghargaan ini adalah untuk menciptakan ekosistem bagi agen perubahan sosial yang dapat bekerja sama untuk menyelesaikan tantangan dengan mengedepankan semangat wirausaha untuk membangun masyarakat yang produktif dan saling terkoneksi.

Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi oleh para pemenang, yaitu: memiliki tujuan untuk membantu masyarakat dengan masalah sosial di ASEAN; memiliki dampak sosial yang dapat dibuktikan, dan sudah beroperasi secara konsisten minimal tiga tahun terakhir. Adapun Tri Mumpuni, Cherrie Atilano, dan Somsak Boonkam terpilih  dari sekitar 160 pendaftar yang diterima oleh pihak penyelenggara.

Stanley Tan, Ketua Komite ASEAN Social Impact Awards dan APC berkata, “Pengusaha sosial seringkali dilupakan oleh para pembuat keputusan, khususnya para filantropis dan instansi pemerintah. Kami sangat berharap penghargaan ini dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengusaha sosial dan membangun jembatan kolaborasi. Mereka memegang kunci ke perubahan sosial, untuk itu kami akan terus berkomitmen dan mendukung penghargaan ini di tahun-tahun yang akan datang,” ujar Stanley.

Selaras dengan Stanley Tan, Dr S Vasoo selaku Associate Professorial Fellow Departemen Sosial  Fakultas Seni dan Ilmu Kemasyarakatan NUS, yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Ee Peng Liang Memorial Fund mengatakan, “Tiga penerima penghargaan ASEAN Social Impact Awards sudah menunjukkan kreativitas dan semangat untuk membangun masyarakat dari bawah, untuk menghasilkan solusi yang berkelanjutan dan berdampak luas. Mereka sudah secara tidak langsung menunjukkan semangat membantu sesama dari Dr Ee Peng Liang dan komitmen beliau untuk membantu masyarakat yang memiliki masalah sosial. Sangat penting bagi kita semua untuk terus mendukung mereka agar lebih berdampak lagi di wilayah ASEAN dan agar proyek yang sudah mereka bangun dapat berlanjut untuk jangka waktu yang panjang,” Dr S Vasoo menguraikan.

Membuka Dialog Filantropi dan Pemerintah

Selain pemberian penghargaan ASEAN Social Impact Awards ini, di hari yang sama juga diadakan Asia Philanthropy Dialogue, sebuah dialog yang menjadi jembatan antara pegiat filantropi dengan menteri dan pejabat senior pemerintah di bidang kesejahteraan sosial dari negara-negara ASEAN. Dialog ini adalah usaha bersama pertama dari negara-negara ASEAN dan para filantropis untuk memperkuat kerjasama dan pengertian antara kedua belah pihak. Acara ini juga merupakan simbol komitmen dari kedua pihak untuk bekerja bersama dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yang terus bermunculan di ASEAN.

Pada dialog tersebut, APC mempresentasikan model-model kerja sama yang dapat dilakukan oleh sektor publik dan filantropi dalam studi yang diberi judul ‘Green Paper on Public-Philanthropic Collaborations in ASEAN’. Studi tersebut memberi rekomendasi jangka pendek seperti melanjutkan dialog dan berkolaborasi dalam isu spesifik seperti pendidikan dan gizi, dan juga rekomendasi jangka panjang seperti mendukung peraturan pajak dan fiskal yang lebih progresif dan kondusif untuk sektor filantropi.

Melalui upaya membuka dialog bersama pemerintah ini, diharapkan terdapat kolaborasi yang dapat terjalin dalam waktu dekat sehingga bisa memperbesar dampak positif dalam hal pengembangan serta pemberdayaan masyarakat.

“Dengan cepatnya perkembangan ASEAN, maka penting bagi organisasi ini untuk lebih inklusif. Karena masalah yang menghadang wilayah Asia Tenggara akan semakin kompleks, maka diperlukan kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Acara hari ini adalah langkah awal yang baik untuk memperkuat kerja sama dan kolaborasi. Saya percaya dialog ini akan berperan penting dalam memperkuat pengertian antara ke-dua sektor agar dapat lebih berdampak bagi masyarakat di masa yang akan datang,” tutur Stanley Tan yang juga menjadi moderator dalam dialog tersebut.

Usaha kolaborasi yang digagas APC ini disambut baik oleh regulator. “Dialog ini adalah satu ide inovatif dan gagasan baru yang mengajak duduk bersama untuk memecahkan isu bersama dengan sekaligus menawarkan solusi. Ini acara jarang dan langka, kesempatan baik untuk koordinasi dan memiliki potensi untuk semakin memperbesar skala intervensi untuk menyelesaikan masalah yang selama ini sulit dipecahkan. Solusi yang dihasilkan dari acara seperti ini akan lebih sustainable, lebih efektif dan efisien dan uniknya ditawarkan oleh sektor filantropi. Indonesia sangat mendukung, dalam waktu dekat kami ingin mengajak APC untuk duduk bersama di dalam rapat bersama senior officials kami,” ucap Penasihat Senior Kementerian Sosial Republik Indonesia, Mu’man Nuryana.

Hal senada juga diutarakan oleh Menteri Sosial dan Pengembangan Keluarga Singapura, Desmond Lee“Kami berterima kasih pada APC yang sudah memfasilitasi dialog ini. Banyak kisah yang menginspirasi dan kami (pemerintah Singapura) dengan senang hati akan mendukung semangat berbagi yang sudah ditunjukkan anggota APC. Semoga ke-depannya APC dapat membawa perubahan dan dampak sosial yang besar di wilayah ASEAN,” imbuh Desmond.

Pada kesempatan yang sama pula, APC juga meluncurkan katalog filantropis yang diberi judul ‘ASEAN Impact 25’. Katalog ini berisi sepak terjang dan perjalanan 25 filantropis ternama di ASEAN dan bagaimana mereka memulai perubahan.  Katalog ASEAN Impact 25 dan hasil Studi ‘Green Paper on Effective Public-Philanthropic Collaboration’ dapat diunduh melalui: www.asiaphilanthropycircle.org

Tentang ASEAN Social Impact Awards

ASEAN Social Impact Awards diresmikan pada Mei 2017 untuk memberikan penghargaan bagi individu yang memiliki komitmen dan visi kuat untuk membuat dampak sosial positif di masyarakat wilayah ASEAN. Proses seleksi pemenang didasari pada proyek yang dikerjakan peserta yang berasal dari beragam sektor seperti pengembangan perekonomian, pertanian, komunitas hingga hak asasi manusia. Dewan juri untuk proses seleksi ini berasal dari Universitas Nasional Singapura (NUS), Asia Philanthropy Circle dan Ashoka Innovators for the Public.

Proses seleksi dilakukan dengan tahap pertama yaitu 30 juri dari berbagai sektor memillih30 proyek terbaik dari peserta. Penilaian dilanjutkan dengan tahap kedua dengan metode Community Judging Day di mana 30 orang juri dari berbagai sektor memilih 12 proyek terbaik. Dari 12 proyek ini, para finalis dipilih lagi oleh komite penyelenggara untuk kunjungan lapangan ke lokasi proyek yang kemudian menjadi masukan terakhir untuk pemilihan pemenang penghargaan.

Tentang Asia Philantrhopy Circle

Didirikan di tahun 2015 oleh pegiat filantropi bagi pegiat filantropi, misi APC untuk mempercepat tindakan sektor swasta untuk kebaikan bersama dengan cara menanggulangi masalah sistemik melalui kolaborasi antar pegiat filantropi. APC percaya bahwa pegiat filantropi yang strategis dan aktif dapat menjadi agen perubahan yang diperlukan guna menghadapi tantangan sosial di Asia.

APC menghimpun proyek kolaborasi di antara para pegiat filantropi, membangun kapabilitas pemangku kepentingan melalui pertukaran dan pengenalan terhadap praktik baik, serta mendukung pengembangan ekosistem filantropi di Asia. Kami berkomitmen dalam melaksanakan proyek kolaborasi ini guna mencapai dampak nyata dan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan terbesar di wilayah ini. 

Profil Tri Mumpuni

Pendiri Insitut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) ini berkeinginan dunia di mana listrik bisa menjangkau daerah terpencil dan sulit diakses. Upayanya adalah menggerakan masyarakat setempat untuk menciptakan pembangkit listrik mandiri dengan memanfaatkan sumber daya energi terbarukan seperti tenaga angin, air dan matahari atau biogas sebagai energi bersih.

Tri Mumpuni berhasil memberi dampak bagi setengah juta orang dengan cara merangkul komunitas yang ada di desa-desa terpencil dan menggerakkan mereka untuk menciptakan akses yang lebih baik ke sumber tenaga listrik serta melatih mereka untuk menjalankan pembangkit listrik secara mandiri. Karena usahanya ini, Tri Mumpuni menuai banyak penghargaan internasional seperti Ramon Magsaysay Award (2011), Ashden Award (2012), Global Peace Award (2012), dan Islamic Development Bank Award (2013).

Related Post