Pengertian OTT dan Penyebab Korupsi Merajalela
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Inside Kurio Pengertian OTT dan Penyebab Korupsi Merajalela

Pengertian OTT dan Penyebab Korupsi Merajalela

Pemberitaan di media saat ini dipenuhi soal skandal mega korupsi E-KTP, sudah ada beberapa  orang ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus tersebut. Korupsi itu sendiri merupakan suatu penyalahgunaan wewenang atau jabatan yang dimiliki oleh seseorang di mana orang tersebut mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak nya untuk memperkaya diri sendiri atau golongannya.

Di negara Asia Pasifik, Indonesia menduduki peringkat 13 dari 30 negara yang terdaftar sebagai negara dengan tingkat korupsi tinggi dan Indonesia masih kalah dengan negara tetangga kita, Malaysia, yang memiliki Corruption Perseption Index (CPI) di angka 50 dari rentang 0-100 sedangkan kita masih berada di angka 37, cukup jauh.

Untuk mencegah korupsi semakin merajalela, kita memiliki lembaga anti korupsi yang dibentuk dari tahun 2002 hingga sekarang bernama Komisi Pemberantasan Korupsi atau sering disebut sebagai KPK. Dari lembaga inilah kita sering mendengar istilah Operasi Tangkap Tangan atau OTT.

OTT adalah situasi di mana pihak KPK melihat seseorang membawa uang atau barang suap untuk diberikan kepada pihak yang mempunyai kekuasaan sebagai ‘pelicin’ dan pihak tersebut didapat menerima uang tersebut sehingga pihak KPK mempunyai hak untuk langsung menciduk kedua pihak tersebut sebagai terduga tindak pidana korupsi (tipikor)

Pada hari anti korupsi internasional ini, mari kita berusaha untuk mengenal lebih dalam lagi faktor apa saja yang membuat banyak orang melakukan tindak korupsi. Berikut beberapa faktornya

1. Faktor Ekonomi

Biasanya yang menjadi alasan utama orang melakukan tindak korupsi karena faktor ekonomi di mana pendapatan yang mereka dapat dari pekerjaan utama mereka tidak cukup untuk menghidupi keluarganya dan kebutuhan sehari-hari. Dari faktor ekonomi ini, orang akan melakukan segala cara untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sekalipun harus melakukan korupsi.

2. Gaya Hidup

Gaya hidup berlebihan yang tidak sesuai dengan pendapatannya juga menjadi pemicu seseorang melakukan korupsi. Agar terlihat mewah dan dapat dipandang oleh orang-orang sekitarnya, biasanya mereka akan membeli barang-barang mewah agar dapat dipuji teman-temannya.

Padahal secara pendapatan mereka pas-pasan sehingga harus berhutang sana-sini demi mendapat pengakuan. Korupsi pun menjadi pilihan jalan untuk membayar hutang-hutang yang sudah menumpuk tersebut.

3. Kurang Pemahaman Moral Sejak Dini

Saat kamu sekolah dulu selalu ditanamkan agar kita tidak melakukan suatu hal yang bertentangan dengan hukum dan agama. Tetapi tidak menjelaskan apa saja yang bertentangan dengan hukum. Biasanya kita diajarkan jangan membunuh dan jangan mencuri karena bertentangan dengan hukum, tetapi tidak dijelaskan lebih rinci apa saja yang termasuk mencuri dan hukuman apa yang akan didapat jika kita melakukan hal tersebut

4. Menjadi Seorang Follower

Kalau kamu yang bekerja dan menjadi seorang staf, lalu melihat jika bos kamu melakukan korupsi dan dibiarkan, pasti kebiasaan itu akan menular kepada kamu sehingga menganggap bahwa korupsi adalah hal yang biasa. Jika bos kamu dapat melakukan hal tersebut kenapa kamu tidak? Padahal itu adalah paradigma yang salah.

5. Hukuman Yang Masih Terlalu Ringan

Jika kita melihat beberapa kasus korupsi dengan tersangka yang sedang menjalani sidang, terkadang kita dibuat terkejut dengan vonis yang diberikan. Karena lama hukuman yang ditetapkan oleh pengadilan tidak sebanding dengan berapa banyak uang yang sudah dikorupsi oleh sang pelaku. Ditambah lagi kita juga melihat beberapa contoh fasilitas yang terbilang “mewah” untuk ukuran terpidana korupsi sehingga tidak ada efek jera akan tindak korupsi

6. Sudah Menjadi Kebiasaan

Korupsi tidak hanya terjadi di golongan atas tapi menegah ke bawah juga acap kali terjadi. Contoh hal kecil seperti pada lalu lintas jalan raya setiap hari, banyak pelanggaran lalu lintas seperti motor naik trotoar atau terobos lapu merah. Hal tersebut sudah menjadi sebuah kebiasaan. Jeleknya adalah ketika kita melihat kebiasaan buruk tersebut kebanyakan orang cuma hanya mendiamkannya saja dan sudah menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar.

Itulah beberapa penyebab korupsi merajalela di Indonesia menurut Kurio. Masih banyak lagi penyebab-penyebab lain dari korupsi ini. Semoga dengan kamu semua mengetahui penyebab korupsi ini dapat membantu mengurangi tingkat korupsi di Indonesia. Masih banyak lagi tips, artikel dan informasi yang bisa kamu ikuti dari beragam sumber terpercaya di aplikasi Kurio.

Di Kurio, tersedia banyak informasi terbaru dan terpercaya dari berbagai sumber yang sesuai dengan minat dan kebutuhan kamu. Lewat kurasi manual tim kurator yang dipadu dengan mesin yang terus disempurnakan, Kurio menjamin jika semua informasi yang didapatkan di Kurio adalah informasi yang terpercaya dan jauh dari unsur pornografi. JIka kamu belum memiliki aplikasinya, kamu bisa download Kurio di sini sekarang, gratis!

Related Post