Membedah 'Kecanggihan' Pembelaan Setya Novanto
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Lunch Break Membedah ‘Kecanggihan’ Pembelaan Setya Novanto

Membedah ‘Kecanggihan’ Pembelaan Setya Novanto

SETYA

Majelis Kehormatan Dewan (MKD) hanya butuh waktu tiga jam untuk menyidang Setya Novanto. Menurut Ketua MKD Surahman Hidayat, sidang berlangsung singkat karena ‘kecanggihan’ jawaban Setya. “Kalau jawaban bagus, ruang untuk mendalami jadi tidak terlalu luas,” ujarnya.

‘Kecanggihan’ jawaban Setya membuat 17 anggota MKD — yang di dua sidang sebelumnya tampil gahar, kini diam terpana. Tak ada lagi cecar pertanyaan atas jawaban-jawaban yang diberikan politikus senior asal Partai Golkar tersebut.

Padahal setidaknya butuh delapan jam bagi mereka untuk menguji kesaksian pengadu Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Sudirman Said dalam sidang perdana pekan lalu. Sehari berselang, giliran Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin yang ‘dihakimi’ selama kurang lebih sebelas jam.

Lalu apa rahasia yang disembunyikan Setya Novanto, sehingga aksinya membungkam 17 anggota MKD tak mau disaksikan publik Apakah karisma yang ia tunjukkan 40 tahun silam ketika memenangi Kontes Pria Tampan Surabaya kembali muncul, ‘membius’ 17 singa lapar yang harusnya gigih mengejar kesaksiannya? Atau benar apa yang dirumorkan media, bahwa Setya menyumpal mulut para majelis dengan uang miliaran rupiah?

Namun sepandai-pandainya Setya ‘melompat’, salinan pembelaannya jatuh ke ‘media sosial’ juga. Terungkap ia membacakan nota pembelaan sepanjang 12 halaman di depan para anggota MKD. Apa yang disebut Surahman sebagai ‘jawaban canggih’, bisa kita uji sendiri. Apakah Setya benar tampil memuaskan di depan ‘juri’, atau yang ia lakukan tak lebih dari sekadar aksi ‘ketok magic’, trik murahan demi memperbaiki ‘muka’ yang kepalang berantakan.

hal01

Halaman 1
· Setya Novanto mengharapkan MKD menguji kembali legal standingdan bukti-bukti formal yang disampaikan Sudirman Said. — Sebenarnya hal ini sudah didebatkan sebelumnya, Sudirman punya legal standing yang tepat untuk mengadukan masalah pelanggaran etika ini pada MKD.
· “Indonesia mengedepankan kerja sama harmonis antar lembaga tinggi negara, bukan suatu tata pemerintahan yang dikuasai oleh kepentingan dan ambisi per orang yang berdaulat di bidang politik,” — Hal inilah yang jadi motif Maroef Sjamsoeddin merekam pembicaraan Setya Novanto. Membahas perpanjangan kontrak Freeport, Setya bukannya membawa anggota Komisi VII (Energi, Sumber Daya Mineral, Ristek, dan Lingkungan Hidup), melainkan malah membawa pengusaha minyak Riza Chalid.
· Minor error: ‘Sekadar’, bukan ‘sekedar’

hal02

Halaman 2
· Setya mengatakan apa yang diadukan Sudirman Said adalah bentuk rekayasa politik yang luar biasa. — Apa buktinya? Ketika Sudirman Said menyebut ada upaya pemufakatan jahat Setya terhadap Presiden, setidaknya ia memegang bukti sebuah rekaman.
· “Oleh karena itu, saya bertekad menggunakan sidang ini untuk memberikan keterangan secara langsung kepada seluruh rakyat Indonesia,” — Kalimat ini mengindikasikan Setya sempat punya nyali menjalani sidang secara terbuka. Mengapa berubah di menit-menit akhir?
· Setya memohon anggota MKD untuk berani dan tidak terpengaruh serta tetap bersikap independen dalam menangani kasus ini. — Lho, kurang berani apa minggu kemarin di dua sidang sebelumnya, saksi dan pengadu diperlakukan seperti teradu.
· Setya merasa ada pembunuhan karakter dalam upaya menyeretnya ke persidangan kasus pelanggaran etika ini. — Setidaknya, Tempo pernah empat kali mencoba membunuh karakter Setya. Tapi seperti kucing bernyawa sembilan, Setya ‘tetap hidup’.

hal03

Halaman 3
· Setya mengingatkan majelis kehormatan terhadap Pasal 20 A ayat (3) UUD 1945 bahwa anggota DPR-RI mendapatkan hak imunitas. Ia juga mengutip Pasal 132 UU MPR, DPR, DPD, dan DPRD bahwa setiap sidang etik dilakukan secara tertutup. — Konklusi sederhana pernyataan ini menyiratkan, “Saya kebal hukum, sidang saya, publik tak perlu tahu!”

hal04

Halaman 4
· Setelah majelis mengabulkan permintaan Setya agar sidang dilakukan tertutup, ia mulai membacakan nota pembelaannya. Ia memulai pembelaan dengan kalimat Audi et Alteram Partem, “Izinkanlah saya berbicara!” — Di depan majelis mengutip keagungan bahasa latin, di depan Maroef ia menjawab ‘Assalamualaikum’ dengan kata, “Widiiiih!”
· Ia kukuh menyatakan pemberian legal standing kepada Sudirman Said sebagai pengadu tidak tepat. Selain pimpinan dan anggota DPR, yang diperbolehkan mengadu adalah masyarakat secara perorangan atau kelompok. “Sudirman Said mengadu sebagai Menteri ESDM!” — Di satu sisi ada menteri memosisikan diri setara dengan masyarakat, di sisi lain, wakil rakyat malah mengekslusifkan dirinya sendiri.

hal05

Halaman 5
· Ia khawatir bila limitasi legal standing pengadu meliputi eksekutif, Menteri dan Pemerintah bisa setiap saat mengadukan Anggota Dewan ke MKD. — Ia berharap Majelis Kehormatan Dewan semacam lembaga pengawasan internal bagi anggota DPR. What happens in Senayan, stays in Senayan!
· Ia mengatakan seharusnya bila ada masalah, Menteri ESDM harusnya bisa menyampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat antara DPR-RI dan Pemerintah. — Setahu saya, RDP memang jadi forum silaturahmi teknis eksekutif dan legislatif, masalah yang dibahas di sana bersifat profesional, bukan hal-hal tak profesional seperti pencatutan nama Presiden.
· Setya keberatan terhadap setiap dalil dan tuduhan yang dikenakan padanya. “Laporan pengadu serampangan, tidak sesuai fakta, dan tidak sesuai Undang-Undang,” ujarnya.

hal06

Halaman 6
· Aduan butir 1, ia membantah tak pernah berinisiatif melakukan pertemuan dengan Maroef Sjamsoeddin. — Maroef bersaksi, Setya menginisiasi tiga kali pertemuan dengannya, pertemuan kedua melibatkan pengusaha Riza Chalid. — Maroef dalam kesaksiannya pernah menerima SMS dari Setya, “Bisa saya call?” Mendapat SMS, Maroef berinisiatif menelepon Setya. Transkrip pembicaraan keduanya di telepon harusnya bisa jadi bukti lain di Majelis Kehormatan Dewan.
· Aduan butir 2, ia membantah mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden. Selain itu ia juga membantah pernah menjanjikan penyelesaian kontrak PT Freeport Indonesia. — “Presiden Jokowi itu dia sudah setuju di sana di Gresik, tapi pada ujung-ujungnya di Papua. Waktu saya ngadep itu, saya langsung tahu ceritanya ini waktu rapat itu terjadi sama Darmo… Presiden itu ada yang mohon maaf ya, ada yang dipikirkan ke depan, ada tiga…,” kata Setya dalam transkrip rekaman.
· Aduan butir 3, Setya mengklaim selalu mengutamakan kepentingan NKRI secara transparan. — Tapi sidang etik dilakukan secara tertutup, kecuali jika ia menganggap NKRI sesempit ruang sidang majelis.
· Aduan butir 4, ia menegaskan tak pernah meminta saham kepada PT Freeport Indonesia. “Saudara Maroef mengakuinya dalam persidangan yang terhormat ini,” ujarnya. — Seingat saya memang tak ada pernyataan tegas Setya meminta saham Freeport. Media memanasi-manasi ini dengan memberi tajuk ‘Papa Minta Saham’. Namun menurut Sudirman Said, “Kalau didengar rekamannya secara utuh, meski yang mengatakan (minta saham) Pak Riza, tetapi yang mengondisikan, merespons, dan memberikan penekanan-penekanan adalah Pak SN (Setya Novanto).”
· Aduan butir 5, Setya mengatakan selalu bertindak profesional dalam menjalankan tugas — Tercatat dua kali Setya mangkir di acara-acara yang dihadiri pimpinan lembaga tinggi legislatif. Pertama, acara Konferensi Pemberantasan Korupsi yang dihadiri Jusuf Kalla. Kedua, dalam acara pemaparan hasil audit investigatif terhadap Pelindo II.
· Aduan butir 6, Setya bukan pemburu rente, tidak pernah menggunakan kekuasaan dan pengaruh untuk mengambil keuntungan pribadi. Lalu apa penjelasannya mengapa mendatangi Maroef bersama Riza Chalid, bukan dengan para anggota Komisi VII DPR?

hal07

Halaman 7
· Setya tegaskan alat bukti yang ditunjukkan di persidangan, berupa rekaman pembicaraannya selama 127 menit, ilegal. — Maroef dalam sidang sebelumnya membela diri, “Merekam sama dengan kita mencatat. Saya tidak menyembunyikan rekaman itu. Saya taruh di atas meja,” Ia bahkan ditakut-takuti anggota MKD dengan ancaman 10 tahun penjara karena melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Ia dianggap melakukan penyadapan.
· “Rekaman Maroef diperoleh secara melawan hukum, tanpa hak, tanpa izin, serta bertentangan dengan Undang-Undang.” — Masih mengacu Undang-Undang yang sama. Saya masih berpikir keras, bila yang dilakukan Maroef ilegal, Kejaksaan Agung tak akan ikut-ikutan menargetkan Setya Novanto dengan memanggil Maroef sebagai saksi.

hal08

Halaman 8
· Setya menyebut tindakan Maroef merekamnya secara diam-diam adalah tindak kriminal, sangat jahat, dan sangat tidak beretika. — Mengapa tak lantas dilakukan ke polisi? Maroef melakukan prosedur yang benar, ada pelanggaran etik, disampaikan ke menteri terkait. Sudirman Said juga melakukan prosedur yang tepat dengan menyerahkan rekaman tersebut ke Majelis Kehormatan Dewan, bukan pada polisi.
· Ia meminta majelis untuk mengesampingkan dalil dan tuduhan yang didasarkan dari rekaman ilegal tersebut. Ia juga mempermasalahkan kesaksian Sudirman yang dianggapnya sebagai keterangan pihak ketiga. “Keterangan yang tidak dialami sendiri secara langsung, tidak mempunyai nilai pembuktian.” — Perkara gampang, Maroef saja yang ganti mengadukan Setya ke MKD.

hal09

Halaman 9
· Ia mengatakan Sudirman Said telah mencemarkan nama baiknya dengan menuduhkan hal tanpa bukti. Ia juga menuduh Maroef Sjamsoeddin memberikan keterangan tidak benar terhadapnya. — Buktinya sudah jelas diputar selama lebih dari dua jam pada pekan lalu.

hal10

Halaman 10
· Ia menolak seluruh kesaksian Maroef dan Sudirman Said. Selain itu, ia menganggap bukti berupa rekaman 127 menit yang diputar di dalam sidang bukanlah barang bukti yang legal. “Saya tidak mau memberikan komentar dalam bentuk apapun.” — Mungkin ini yang disebut Surahman sebagai jawaban yang ‘canggih’. Karena ia mengklaim barang buktinya tak legal, Setya bisa sesuka hati mengunci mulut sendiri. Tapi dalam sidang, majelis yang berkuasa untuk menentukan legalitas bukti. Sayangnya tak ada upaya majelis untuk mengejar kebobrokan Setya di dalam rekaman tersebut.
· Ia juga mengaku kasus yang menyeretnya ini telah menganggu pekerjaannya sehari-hari sebagai Ketua DPR RI — Saking sibuknya, sidang yang harusnya digelar pukul 09.00 WIB, Senin pagi diundur selepas siang. Setya beralasan ada agenda lain. Namun ketika dicek di agenda yang harusnya ia hadiri, Simposium kebangsaan di Gedung Nusantara IV, Komplek Parlemen, batang hidung Setya tak nampak.

hal11

Halaman 11
· Ia mendesak majelis untuk segera memvonisnya tak bersalah. “Harapan saya, persidangan ini segera berakhir hari ini juga, makin cepat makin baik agar saya yang tidak bersalah ini mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya.” — Dugaan pengamat politik Yunarto Wijaya beralasan. Diduga ada upaya percepatan sidang dengan cara skenario voting untuk memvonis Setya tak bersalah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
· “Selama ini saya diserang secara jahat melalui pemberitaan media cetak dan elektronik seolah saya penjahat. Faktanya tidak demikian sebagaimana telah terbukti dalam persidangan hari ini.” — Lah apa sih yang sudah berhasil ia buktikan hari ini. Ia hanya membantah kesaksian Maroef dan Sudirman tanpa fakta kuat. Minimal ia bisa membuktikan bahwa pertemuan di Ritz Carlton tempat rekaman itu diambil, tidak pernah ada. Ia juga mengambil jalan pintas yang ajaib, ‘menghilangkan’ barang bukti kuat dengan cara ‘meilegalkannya’. ‘Magis’, memang, ckck.

hal12

Halaman 12
· Akhir kata, ia meminta majelis menolak aduan Sudirman Said, menyatakan alat bukti rekaman tidak sah, dan mengabulkan permintaannya agar divonis tidak terbukti melakukan pelanggaran kode etik. — Saya membayangkan usai Setya membacakan nota pembelaan, majelis bertepuk tangan. Tak ada satu pun majelis yang ‘berani’ bersikap kritis, mengejar banyak celah dalam pembelaannya. Membayangkannya saja sudah sedih sekali, apalagi bila itu benar terjadi.

 

Demikian nukilan dan komentar saya tentang ‘kecanggihan’ jawaban-jawaban Setya Novanto dalam sidang Majelis Kehormatan Dewan. Intinya: Setya mengaku tak bersalah, menuduh Sudirman dan Maroef memberi kesaksian palsu, dan menganggap barang bukti rekaman, ilegal karena direkam tanpa seizin dan sepengetahuannya.

Saya akan menutup tulisan ini dengan anekdot yang marak usai kasus ini muncul ke permukaan: Setiap rekaman CCTV yang membuktikan tindak kejahatan seperti pencurian, perampokan, dan pemerkosaan tidak bisa dijadikan bukti karena dilakukan tanpa seizin maling.
Disambung sebuah sarkasme, “…Maling kok nyambi jadi ketua dewan.”

Related Post

  • Jack

    Kalau gitu laporin saja Setya ama ente ke polisi, bahwa dia itu maling. Gitu saja kok repot. ….