Kurio Lunch Break: 5 Kisah Hasil Investigasi Air Asia
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Lunch Break Kurio Lunch Break: 5 Kisah Hasil Investigasi Air Asia

Kurio Lunch Break: 5 Kisah Hasil Investigasi Air Asia

Jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 telah rampung diinvestigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi. Menurut KNKT, Air Asia jatuh bukan karena faktor cuaca, lalu apa penyebabnya? Lima kisah hasil investigasi Air Asia kami ringkas dalam Kurio Lunch Break, Rabu, 2 Desember 2015.

1. Pesawat jatuh karena kehilangan daya dorong dalam waktu cukup lama. Pesawat tujuan Surabaya-Singapura itu jatuh karena mengalami stall (kehilangan daya dorong) berkepanjangan. Stall ialah kondisi ketika pesawat kehilangan daya untuk terbang akibat aliran udara pada sayap terlalu lambat. Kesimpulan ini didapat setelah melakukan analisis terhadap data penerbangan atau flight data recorder (FDR) dan perekam suara kokpit atau cockpit voice recorder (CVR). Baca lengkap beritanya di Beritagar.id >

2. Ada lima penyebab utama dalam kecelakaan Air Asia, tak ada faktor cuaca. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis hasil investigasi terhadap kecelakaan pesawat AirAzia QZ8501. Pesawat yang membawa 162 orang itu mengalami celaka di perairan Selat Karimata, Kalimantan Tengah 28 Desember 2014. Dari hasil investigasi Flight Data Recorder (FDR), Kepala Sub Kecelakaan Udara KNKT Kapten Nurcahyo Utomo mengungkapkan, ada sejumlah faktor yang berkontribusi pada kecelakaan pesawat tujuan Surabaya-Singapura tersebut. Baca lengkap beritanya di Metrotvnews.com >

3. Laporan KNKT bisa jadi bahan untuk menuntut tanggung jawab. Permintaan itu, kata Dwijanto -ayah dari Bhima Wicaksono- salah seorang penumpang, dilandasi fakta yang diungkap oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bahwa pesawat AirAsia QZ8501 jatuh karena retakan solder pada modul elektronik sistem kemudi yang menimbulkan masalah terjadi empat kali dan karena tindakan pilot dalam mengatasi persoalan. “Karena isu sebelumnya bukan karena ada kerusakan, karena faktor alam, awan itu ya, kumulonimbus. Ternyata setelah ada penjelasan dari pihak keselamatan penerbangan transportasi kok begitu,” kata Dwijanto. Baca lengkap beritanya di BBCIndonesia.com >

4. Kilas balik jatuhnya Air Asia, 165 penumpang dipastikan tewas dalam kecelakaan ini. Sejumlah Jenazah pun berangsur-angsur mulai ditemukan. Dan pada tanggal 7 Januari 2015 titik lokasi bagian ekor pesawat AirAsia QZ 8501 itu ditemukan. Penemuan FRD atau bagian black box ditemukan pada tanggal 12 Januari 2015. Penyelaman pun dilakukan untuk memastikan keberadaan bangkai pesawat tersebut. Pada 27 februari 2015 Basarnas kembali berhasil menemukan potongan besar badan pesawat. Baca lengkap beritanya di Metrotvnews.com >

5. Sebelas bulan setelah jatuh, banyak pihak harus belajar dari kasus Air Asia. Kepala Sub Kecelakaan Udara KNKT Kapten Nurcahyo Utomo mengakui, bagaimana KNKT memusatkan tenaga untuk menyelesaikan penyelidikan kasus ini. Kata dia, kasus yang dialami Air Asia QZ8501 terbilang besar dan baru. “Sehingga semua harus belajar dari hal ini,” kata Nurcahyo. Baca lengkap beritanya di Metrotvnews.com >

Related Post