Bytes of the Week: News (24-30 Oktober 2015)
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Bytes of the Week Bytes of the Week: News (24-30 Oktober 2015)

Bytes of the Week: News (24-30 Oktober 2015)

Selamat pagi! Banyak berita penting yang terjadi di Indonesia dan dunia selama seminggu ini. Berikut lima di antaranya yang mungkin Anda lewatkan.

Kabut asap meluas, DPR rencana bikin pansus.
Tak ada asap kalau tak ada api. Tak ada pansus DPR-RI bila pemerintah bisa segera mengatasi kabut asap yang sudah berskala bencana nasional. Lima kisah tentang rencana DPR membentuk panitia khusus. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana saat ini sudah ada 1.500 titik api di Indonesia. Sejumlah pihak pro-kontra dengan pembentukan pansus ini. Mayoritas anggota DPR setuju. mendesak pemerintah untuk melakukan upaya-upaya yang diperlukan agar bencana tersebut tidak semakin menelan korban yang lebih luas, terutama penyakit gangguan pernafasan dan paru-paru,” ujar Ketua Komisi VIII Saleh P Daulay. Namun kata sejumlah LSM, pansus asap tidak perlu.  “Lebih baik DPR melakukan pengawasan terhadap penanganan, pemadaman, dan evakuasi. Sehingga jelas  DPR sebagai lembaga legislatif fungsinya dirasakan masayarakat di lapangan,” kata Kepala Divisi Kampanye Walhi Nur Hidayati. (via Rimanews.com)

Jokowi pulang cepat dari Amerika demi korban asap.
Jokowi mempersingkat lawatannya di Amerika karena masalah asap di Indonesia. Titik api makin banyak, daerah terdampak asap makin meluas. Sesampainya di Jakarta, Jokowi langsung berkantor di daerah kabut asap. Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengatakan, permasalahan kesehatan dan pendidikan yang dihadapi warga di lokasi bencana asap membuat presiden ingin cepat kembali ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, Jokowi langsung berkantor di wilayah Air Sugihan, Ogan Komering Ilir . Presiden dan Ibu Negara mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sumsel, sekitar pukul 08.15 WIB, Kamis, 29 Oktober 2015. Dalam kunjungan singkatnya ke Amerika kemarin, Jokowi berhasil membawa pulang potensi investasi sebesar 20.5 miliar dolar AS. (via Bisnis.com)

Diskusi korban PKI di Bali dilarang polisi.
Sebuah sesi dalam acara Ubud Writers and Readers Festival dibatalkan oleh polisi. Dalam sesi tersebut rencananya akan dibahas sejumlah masalah terkait fakta-fakta yang perlu diungkap dari kejadian kelam Indonesia pada 1965. Panitia Janet DeNeefe mengatakan, “Sebagai penyelenggara festival, misi kami adalah untuk membuka pemikiran orang dan kita bisa bersama-sama duduk dan berdiskusi tentang peristiwa ini.” Namun polisi beralasan hal tersebut bersinggungan dengan ketetapan MPRS 1966 bahwa semua ajaran yang berkaitan dengan PKI dilarang digelar di publik. (via Tempo.co)

Terkuak banyak kisah mengejutkan di balik kematian Engeline.
Sidang kasus Engeline memasuki seri kedua. Kali ini ada sejumlah fakta mengejutkan yang terkuak di pengadilan. Menurut salah satu tersangka, Agustinus Tai, ia dipaksa mengakui perbuatannya karena disiksa oleh polisi. Ketika diberi kesempatan berbicara, dia menegaskan, dirinya langsung dipukuli dan ditelanjangi saat diperiksa. “Bahkan rambut belakang saya dibakar, Yang Mulia,” ujar Agus. Fakta mengerikan lain yang terungkap dalam sidang, kala ditemukan organ tubuh Engeline tak lagi lengkap. Tubuhnya sudah membusuk. Ada lilitan tali di leher korban. Paha kanan tulangnya keluar, hidung sudah tak ada. Mata sudah tak ada lagi, keadaan membungkuk. Tulang tangan kanannya ke luar. Sudah membusuk mayat,” tutur saksi Agung Kusuma. (via Liputan6.com)

Bom di Alam Sutera, pelaku tak terkait jaringan teror.
Untuk kali kedua, pusat perbelanjaan di Alam Sutera, Tangerang, diteror bom. Tak sempat dijinakkan tim gegana, bom meledak di basement mall. Pelakunya ternyata bukan jaringan teroris, namun seorang pria yang mencoba memeras pengelola mal. Oleh polisi, pelaku dijuluki si lonewolf. Kepala Polda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian menjelaskan, Leopard Winsu Kumara tidak memiliki pemimpin dan kelompok yang mendorongnya untuk melakukan teror. “Ada hal unik. Pelaku ini tidak terkait sama sekali dengan jaringan-jaringan teror yang dipetakan polisi. Pelaku tunggal, motif bukan ideologi,” ujar Tito. (via Liputan6.com)

Bytes of the Week adalah rangkuman lima berita paling menarik setiap minggunya yang dikurasi oleh tim kurator Kurio. Artikel yang diangkat pada rubrik ini dipilih berdasarkan kualitas keberitaan, sumber yang terpercaya, dan fungsinya bagi khalayak. Anda dapat mengikuti topik-topik terkait di aplikasi Kurio.

Related Post