Stop Memarahi Anak Rewel, Ketahui Penyebab Dan Solusinya
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Kurio Tips Stop Memarahi Anak Rewel, Ketahui Penyebab Dan Solusinya

Stop Memarahi Anak Rewel, Ketahui Penyebab Dan Solusinya

Stop Memarahi Anak Rewel, Ketahui Penyebab Dan Solusinya

Sebagian besar orang tua pasti pernah merasa jengkel akibat perilaku anak yang kadang diluar kendali. Berbagai tindakan orang tua seperti memarahi anak, bersikap cuek, menasehati, hingga bahkan mengeluarkan tindakan fisik seperti memukul anak kerap terlontar pada saat pengasuhan.

Sikap mengamuk atau rewel yang terjadi pada anak sebenarnya wajar terjadi di umur 15 bulan hingga 4 tahun. Hal ini dikenal dengan istilah temper tantrum, yakni, kondisi ledakan emosi yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan.

Sebagai orang tua, hal ini sebaiknya dipahami dengan baik, sehingga kekerasan tidak perlu dilakukan. Perlu diingat, tantrum adalah salah satu bentuk yang paling umum dari perilaku bermasalah pada anak-anak tetapi cenderung menurun dalam frekuensi dan intensitas begitu anak tumbuh. Pada balita, tantrum atau amukan dapat dianggap sebagai normal, bahkan sebagai pengukur dari kekuatan pengembangan karakter.

Seperti yang dikutip dari babycenter.com, penyebab terjadinya temper tantrum menurut Professor Claire B.Kopp dari Developmental Psychology di California’s Claremont Graduate Univeristy, adalah ketika terhalangnya keinginan anak dalam mendapatkan sesuatu namun mereka belum memiliki kosakata yang banyak untuk mengungkapkannya, sehingga protes tersebut muncul lewat sebuah kemarahan.

Nah, setelah memahami penyebab dari kerewelan anak, berikut beberapa tip yang dapat Anda praktekan saat gejala tantrum muncul pada anak.

Saat anak mulai menunjukan gejala awal tantrum, segera alihkan perhatiannya dengan mencoba memberikan mainan atau menggendongnya keluar ruangan sambil bercanda. Hal ini dapat membuatnya lupa akan kemarahan yang ingin dia lontarkan.

Saat anak mengalami tantrum, tetap coba untuk bersikap tenang. Beberapa sumber menyatakan, saat tantrum terjadi, tidak ada hal lain yang dapat menenangkannya (bahkan ketika keinginannya akhirnya terpenuhi). Bersikap cuek dapat menjadi solusi. Bersikap cuek disini, bukan berarti Anda menyerah dan meninggalkannya sendiri. Tetap berada disisinya saat tantrum muncul adalah hal wajib. Anak pasti akan menjadi lelah akibat mengamuk hingga marahnya reda dengan sendirinya. Saat kemarahan anak reda, disinilah peran sebagai orang tua dimainkan, angkat anak Anda dan belailah penuh kasih sayang.

Hindari Tantrum Berkepanjangan Lewat Cara Berikut:

Guru pertama yang ditemui oleh anak adalah orang tua. Anak akan meniru apapun yang dilakukan oleh orang tua. Maka dari itu, hindari bersikap keras pada anak karena mereka akan meniru perilaku buruk dan menganggapnya benar. Sebagai gantinya, Anda dapat bersikap tegas dengan memberikan peraturan dengan kata-kata halus seperti menjelaskan bahwa jika mereka marah terlalu lama/sering, dapat membuat dirinya lelah dan hal itu buruk untuk dirinya dan orang lain. Ingat juga, mengasuh anak adalah proses, Anda mungkin tidak melihat hasil instan karena mereka pun masih mencoba memahami maksud dari kata-kata orang tua hingga akhirnya mengaplikasikannya.

Naluri orang tua yang senang memanjakan anak adalah bawaan alami. Namun, perlu diingat, jika Anda terus-menerus memenuhi apa yang mereka inginkan, saat kondisi dimana Anda tidak dapat mengabulkannya, akan memicu anak untuk mengamuk. Kebiasaan ini perlu dikontrol sehingga suatu saat tidak menyulitkan kita sendiri ataupun orang lain yang mungkin mengasuh anak Anda sehari-harinya.

Saat anak berhasil melakukan sesuatu yang baik, jangan sungkan untuk memujinya. Begitu pula sebaliknya, jika anak melakukan hal yang buruk, Anda tidak perlu ragu untuk mengatakan bahwa hal itu salah dan Anda tidak menyukainya. Hal ini akan menjadi pelajaran karena anak cenderung lebih senang mendapat pujian dan dirinya secara otomatis akan lebih condong melakukan hal yang baik daripada yang buruk.

So, moms and dads, tetap sabar dan jadikan proses mengasuh anak kegiatan yang fun, ya! Anda juga dapat mengakses berita dan tip menarik seputar Family & Parenting dalam topik Life & Health di Kurio. #HappyParenting

Related Post