Kurio Lunch Break: 5 Cerita Pelarangan Diskusi 65 di Bali
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Lunch Break Kurio Lunch Break: 5 Cerita Pelarangan Diskusi 65 di Bali

Kurio Lunch Break: 5 Cerita Pelarangan Diskusi 65 di Bali

Sebuah sesi dalam acara Ubud Writers and Readers Festival dibatalkan oleh polisi. Dalam sesi tersebut rencananya akan dibahas sejumlah masalah terkait fakta-fakta yang perlu diungkap dari kejadian kelam Indonesia pada 1965. Lima cerita pelarangan diskusi ini, kami ringkas dalam Kurio Lunch Break, Selasa, 27 Oktober 2015:

1. Polisi larang acara terkait pembantaian 1965, apa kata panitia? “Sebagai penyelenggara festival, misi kami adalah untuk membuka pemikiran orang dan kita bisa bersama-sama duduk dan berdiskusi tentang peristiwa ini. Namun setelah kita mencoba membicarakan dan bernegosiasi dengan pemerintah setempat, kami harus merelakan sesi ini dibatalkan,” kata Pendiri festival sastra dan budaya Ubud, Bali  (Ubud Writers & Readers Festival), Janet DeNeefe. Baca lengkap beritanya di Tempo.co >

2. Apa alasan polisi membatalkan sesi 1965 di Ubud? “Kami mengimbau supaya itu tidak dilakukan, yang jelas itu memang masih ada larangan tentang ajaran-ajaran PKI (Partai Komunis Indonesia). Sesuai TAP MPRS 1966 itu masih berlaku,” kata Farman saat dihubungi lewat sambungan telepon selulernya, Jumat, 23 Oktober 2015. Farman menuturkan imbauan itu penting karena jika acara itu sampai jadi dilaksanakan, dikhawatirkan akan bermasalah pada keamanan. “Kemudian masalah keamanan jangan sampai napasnya festival itu justru malah tercemar karena adanya pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan PKI,” tuturnya. Baca lengkap beritanya di Tempo.co >

3. Diskusi 65 di Bali angkat kisah korban kekejaman terhadap PKI. Menanggapi pembatalan diskusi dan peluncuran buku tentang peristiwa 1965 dalam Festival Penulis dan Pembaca Ubud (UWRF) 2015, pihak penyelenggara membantah adanya upaya penyebaran komunisme. Mereka justru mengaku ingin suarakan derita para korban. Baca lengkap beritanya di JPNN.com >

4. Pemutaran film skala Oscar, ‘The Look of Silence’ menjadi bagian dari sesi tersebut. Ada 3 panel diskusi yang terpaksa ditiadakan, yakni diskusi terkait tentang peristiwa tahun 1965. Selain itu ada juga pameran dan peluncuran buku The Act Of Living serta pemutaran film karya Joshua Oppenheimer, yakni The Look of Silence, yang juga dibatalkan. Baca lengkap beritanya di Tribunnews.com >

5. Pembatalan acara dianggap menghambat proses demokrasi. “Juga menghambat pelurusan sejarah, terutama soal Gerwani, organisasi perempuan paling progresif pada masa itu,” ujarnya. Gerwani banyak melahirkan tokoh politik, seperti SK Trimurti, kata Dewi Candraningrum, Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan. Baca lengkap beritanya di CNNIndonesia.com >

Related Post