Kurio Lunch Break: 9 Juli 2015
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Lunch Break Kurio Lunch Break: 9 Juli 2015

Kurio Lunch Break: 9 Juli 2015

1. Ahok menyatakan dinasti politik sah-sah saja, namun ada syaratnya. “Kamu mau dinasti asal mau mati buat rakyat ya boleh saja. Kalau mau bekerja buat rakyat kenapa enggak boleh? Yang enggak boleh dinasti tapi bareng-bareng korupsi gitu loh. Kita harus cegah dinasti korupsi,” ujar Ahok. Kemarin, Mahkamah Konstitusi membatalkan aturan larangan dinasti politik seperti tercantum dalam UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota dalam UU Pilkada. Sejumlah pihak menyatakan ada dampak negatif dibalik keputusan tersebut. 

Di lain pihak, mantan Ketua MK Mahfud Md mendukung langkah bekas institusi yang dipimpinnya tersebut. “Konstitusi melindungi HAM setiap orang, tak terkait dengan keluarga/dinasti. UUD kita menyatakan setiap orang,” tulis Mahfud MD lewat akun Twitternya @mohmahfudmd. Meski demikian, sejumlah kepala daerah kecele dengan putusan ini, demi menghindari aturan sejumlah gubernur/bupati/walikota yang kerabatnya akan mencalonkan diri di pilkada nanti, telah mengundurkan diri. Baca lengkap beritanya di Merdeka.com >


 

2. Menyentuh, jutawan Australia terbang ke Yunani untuk menolong pria tua yang terekam kamera menangis di depan sebuah bank. James Koufos adalah orang Yunani berkewarganegaraan Australia. Ia langsung mengenali sosok yang ada dalam foto itu. Pria malang itu tak lain adalah teman sekolah almarhum ayahnya, George Koufidis. Seperti dikutip dari Times, James pun segera memposting permintaan di Facebook, AGAR seluruh kontaknya mencari Giorgos. Dalam postingannya, dia menawarkan Giorgos 250 Euro per minggu selama setahun atau “selama mungkin”.

Yunani dihantam badai ekonomi, negara tersebut telah dipastikan bangkrut karena gagal membayar utang-utangnya pada negara Uni Eropa. Baca lengkap sejumlah kisah di tengah runtuhnya negeri para dewa itu di Liputan6.com >


 

3. Teka-teki pembunuhan bocah Angeline Megawe makin rumit. Kali ini orang dekat menyebutkan jika empat orang anak tersangka, Margriet Megawe terlibat pembunuhan tersebut. Dalam diskusi keluarga itu, aksi pembunuhan direncanakan dan melibatkan empat anak Margriet. “Pembunuhan itu telah direncanakan jauh hari oleh empat anak Douglas,” kata Siti Sapurah, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, mengutip pernyataan Imelda, kerabat korban.

Hal ini dibantah oleh Margriet, ia tak ingin disudutkan pihak lain. “Dari 23 pertanyaan, sebagian dibantah Margriet,” kata Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar Siti Sapurah. Di tempat lain, kisah tragis serupa Angeline berulang. Tragedi itu kembali terjadi pada Mutiara Rumi atau Tiara, 12 tahun. Remaja yang tinggal di Jalan Rappocini, Makassar, ini tewas di tangan ayah kandungnya, Rudi Haeruddin, 35 tahun. Ibu Tiara, Ani, 30 tahun, kini hanya bisa memandangi tubuh Tiara yang terbujur kaku. Putri sulung dari tiga bersaudara itu merupakan tulang punggung keluarga. “Tiara itu anak penurut dan suka bantu-bantu. Dia tidak banyak mengeluh,” kata Ani. Baca lengkap beritanya di Tempo.co >

Related Post