Relevansi Ruang Berkomentar Hari Ini
Kurio adalah app berita Indonesia yang menyajikan beragam pilihan konten sesuai dengan minat dan rasa penasaran anda. Nikmati baca berita kapan saja, di mana saja!
Gd. Wisma 77 Tower 2, Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat
Jakarta
DKI Jakarta
11410
Indonesia
home Content Curation Relevansi Ruang Berkomentar Hari Ini

Relevansi Ruang Berkomentar Hari Ini

Kemarin (6/7), The Verge mengumumkan bahwa mereka menutup ruang komentar pada tiap artikelnya. Pada post-nya, Nilay Patel menulis bahwa mereka merasa comment section menjadi makin negatif dan agresif [walau beliau menuliskannya dengan manis, “getting a little too…“]. Tulisan ini ditutup dengan kalimat lucu, “It’s going to be a super chill summer.”

The Verge menjadi ‘korban’ selanjutnya dari tempat penting yang dahulu dijadikan semua publisher websites sebagai ruang untuk men-engage pembaca, komunitas, lewat jalinan komunikasi antarpembaca, pembaca ke penulis. Website favorit kami itu mengikuti jejak Popular Science, Mic, Recode, to name a few, yang lebih dulu menonaktifkan kolom komentar untuk kemudian fokus di platform lain demi mengakomodasi opini pembaca.

Selepas dimatikan, banyak publishers yang memilih Facebook, Twitter, dan forum sebagai ruang komentar and beyond. Recode dan Mic, misalnya, memilih jalur ini. Pun Reuters yang memiliki pendapat bahwa dinamika pembaca berita hari ini sudah sebegitu berubahnya, sampai dibutuhkan ruang khusus untuk beropini dengan lebih kuat secara kualitas. Bukan di comment section, tapi di forum.

Banyak alasan bijak digulirkan publishers ke khalayak, saat faktanya kolom komentar lebih banyak diisi oleh agresivitas, kenegatifan, trolls. Tantangan saya kini, buka publisher lokal di browser Anda, apa pun, lalu masuk ke kolom komentar pada artikel/konten yang direkomendasikan mereka. Simak apa yang terjadi. Melihatnya, saya jadi ingat Chris Pratt yang menyebut kolom komentar merupakan ‘crazy toilet bowl‘.

Beberapa websites melakukan cara yang masuk akal untuk menghalau fenomena ini. Penggunaan moderator, yang menjaga kolom komentar setiap post yang diunggah. Efektif, saat resources-nya cukup, sementara jumlah post terus bertambah banyak, jumlah pembaca bertambah banyak. Mic akhirnya menyerah dengan release cantik, “Rather than assigning team members to manage the comments on our site, we are investing our engineering and editorial resources in new products and storytelling formats that benefit our audience.”

Di tempat saya bekerja dulu, Yahoo, kolom komentarnya menggunakan sistem vote (persis Reddit dan Imgur). Komentar yang tak disukai pembaca lain diberi ‘jempol terbalik’ (downvote), yang disuka pembaca lain diberi ‘jempol’ (upvote). Efektif, untuk sementara, karena pada akhirnya komentar yang paling atas belum tentu ia yang relevan, berbobot, tak agresif, tak reaksioner. Seluruhnya ditentukan pembaca. Waktu itu, saya sudah geregetan lihat opini-opini ‘ajaib’ di sana, sayangnya tim editorial tak bisa ‘menghukum’ commenter itu karena cuma para pembaca [dalam jumlah tertentu] yang mampu melakukannya dengan memberi serbuan downvote.

Melihat situasi di atas, terlihat fenomena lucu pada ruang komen; bukannya jadi tempat beropini yang murni, akhirnya malah jadi ruang yang menyeret interpretasi pembaca, jadi lepas dari value yang diberikan kontennya sendiri. Terima kasih pada para keyboard warriors di luar sana yang merelakan waktunya masuk ke ruang komentar, mengacak-acak, dan berpesta ad hominem di dalamnya.

Kami di Kurio tak cuma sekali-dua kali mendapat rekues dari pengguna agar fitur komentar hadir di app. Ya, tentunya tim kami terus menggodok, mempelajari pros and cons soal pentingnya ruang komentar, sementara menunggu siapa lagi di industri media online yang akan menyerah melihat kolom komentarnya.